Ayahku mulai sakit-sakitan. Kadang suka kambuh penyakitnya. Jika ditanya kenapa, kambing hitamnya adalah karena aku belum menikah.
Begitu pun ibuku. Setiap sakit tulangnya datang, alasannya karena kepikiran anak bungsunya belum dipinang. Aku pun menghela nafas. Apa memang ini salahku? Jika boleh memilih aku tak ingin juga seperti ini. Aku ingin seperti teman-teman seangkatanku yang sudah pamer foto pernikahan, bayi Lucu, dan kebersamaan dengan keluarga kecil. Aku aku berkehendak jadi perawan tua seumur hidup???
Mungkin. Ya itu dulu. Saat hidup dan Harapan ku sempat hancur. Skeptis setengah Mati terhadap dunia ini Dan Juga lelaki. Tapi kini aku sesali itu semua. Wanita mana yang sanggup hidup sendiri?
Allah pasti nenghukumku atas apa yang pernah aku pikirkan dulu. Pikiran khas feminis. Sesal dan taubat ku Harap bisa menghapus hitamku.
Diusia menjelang kepala 3 ini, aku Makin terbiasa dengan pertanyaan “umur segini kok belum nikah?”. Awalnya aku marah dan kesal mendengarnya. Malah sempat menggertak seorang pemuda karena menanyakan ini 2 kali. Padahal sebelumnya sudah kukatakan lebih baik jangan tanyakan ranah pribadi ku ini. Sahabatku pernah menasehati, saat ku ceritakan ini,
” Reaksimu terlalu berlebihan. Kau kan bisa bilang belum nemu yang pas aja, ya doain aja. Baik-baik ajalah ngomong.”
“Aku sudah berkata baik-baik ya di kali pertama. Tolong jangan tanyakan ini ya,begitu. Nah diramahin malah ngelunjak nanya lagi pertanyaan itu. Ngamuk lah! Coba aku tanya, sopan dan pantas nggak orang nanya begitu Sama orang Baru dikenal?” Sergahku membela diri.
” Kalau begini kau bersikap terhadap lelaki, gimana mau dapat jodoh? ” kata Sahabat lamaku ini.
” Kau pikir aku berlaku kasar terhadap setiap lelaki? Tanya saja Ali, apa aku pernah kasar padanya? Selama ini budi Bahasanya baik. Mana mungkin aku berkata kasar padanya? ”
” Siapa itu Ali? ” tanyanya dengan nada selidik. Selanjutnya aku jelas kan bahwa dia teman seangkatan kita. Dari sekian banyak murid lelaki, aku hanya pernah berkomunikasi dengannya. Interaksi kami biasa saja. Yang jelas kami saling sharing lowongan kerja dan sesekali Dia pernah menolongku. Aku lebih banyak menggunakan Bahasa Pria Agar tidak melibatkan perasaan.
Perlu aku tegaskan, aku tidak bermaksud kasar dengan lelaki. Aku hanya menjaga Batasan saja. Jika Baru-Baru saja kenal mengharap intimacy, maaf saja. Tidak mudah untuk ku menerima orang yang menyentuh kehidupan pribadi secara mendalam Kalau belum berkawan bertahun-tahun. Apalagi kurang bersimpati satu sama lain.
Oke, kembali pada pertanyaan “kenapa belum nikah”. Ternyata bukan cuma orang Indonesia saja yang merecoki dengan pertanyaan itu. Orang Kazakh, orang Kyrgyz, orang Rusia, Orang Turki, Orang Tunisia, Orang Yordania pun selalu menanyakan Hal ini. Malah orang Kyrgyz berkomentar :
“Umur segitu sih udah Tua untuk menikah!”
Asem.
Dengan banyaknya orang nanya kenapa belum nikah, lah aku makin tenggelam dalam tanda tanya. Segitu pentingnya kah status pernikahan? Lalu aku analisa penyebab belum nikah.
1. Belum Dewasa
Aku sadari masih suka main-main dan cuek. Masih belum bisa mengambil keputusan penting dalam hidup. Terlambat juga ngeh Sama rencana jangka panjang dalam hidup. Pengelolaan emosi dan disiplin diri belum terbentuk sempurna.
2. Mainnya Kurang Jauh
Yang di maksud mainnya kurang jauh adalah networking masih sempit. Belum Ada banyak kenalan yang memperluas pergaulan dan wawasan. Aku masih mencoba untuk berkomunitas Dan berorganisasi.
3. Komunikasi Kurang Luwes
Ini salah Satu tantangan bagi orang introvert sepertiku. Dari dulu Kalau ketemu orang rasa ya pengen kabur. Kemana-mana lebih nyaman sendiri dibanding barengan. Dari Zaman kuliah sudah nyemplungin diri ke berbagai organisasi. Observasi bagaimana cara asik gaul dengan laki-laki atau pun perempuan. Rasanya sulit untuk merasa nyaman di tengah banyak orang. Harus ekstra usaha.
4. Muka Resting Bitch Face
Resting Bitch Face itu kondisi dimana muka tampak selalu marah dan cemberut. Padahal model muka emang begitu dari sononya.
Kalau mau milih sih, aku nggak mau Punya Roman muka sangar. Sering disalah pahami terus. Ada cara untuk menyiasatinya, Salah Satunya dengan make-up. Saking desperate, aku pernah terpikir memoles lipstick lebih lebar bibir dan bentuk melengkung. Ehm, tapi apa nggak mirip joker ya? Tinggal nanti pas rapat kerja, disaat orang-orang pada tegang, aku berujar “why so serious?”.
Salah duanya, harus rajin-rajin tersenyum. Hasilnya malah Saya menyeringai layak serigala ketemu domba.
Dari kesekian poin tersebut, aku bisa tau kenapa aku menarik dimata Pria. Nggak udah spesifik Pria Deh, manusia pada umumnya. Masa single begini sebaiknya di pakai buat upgrade diri, bukan menyesali diri. Yang bisa dilakukan adalah ikhtiar. Masalah hasil terserah Allah.